Blater: Membedah Tradisi Orang Madura

Membaca buku dengan judul “Blater” ini tak ubahnya membaca Madura. Mahwi Air Tawar melalui buku ini rupanya ingin menyajikan nilai-nilai kemanusiaan Madura. Bahkan dengan identitas kemaduraannya Mahwi begitu lihai menguak esensi dan segala sisi lain tentang kehidupan, serta mengurai dengan begitu detail tradisi-tradisi yang berkembang di Madura.

Penggunaan tradisi dalam suatu karya, khususnya cerpen sebagaimana karya yang satu ini merupakan suatu bentuk apresiasi atas cultural studies dalam sebuah karya sastra. Dalam kumpulan cerpen ini Mahwi memperlakukan teks-teks di sepangjang penuturannya sebagai salah satu produk budaya yang diupayakan untuk menyampaikan serangkaian praktik atas aturan atau konvensi yang ingin disampaikan pada mayarakat luas.

Paling tidak melalui karya ini Mahwi ingin mengenalkan bagaimana sebenarnya bentuk budaya yang berlangsung di Madura, terlebih bagaimana kemudian masyarakat luar (pembaca) akan memiliki kebenaran pemahaman dan informasi melalui karya ini. Lebih dari itu, Mahwi melalui karya ini bertujuan menyampaikan suatu yang dipandang “berbeda” oleh kebanyakan masyarakat luar, namun pada usaha penyampaiannya Mahwi tetap memusisikan dirinya sebatas sebagai ”narrate” (penutur) yang pada pemahaman lebih jauh Mahwi tidak subyektif dalam menuturkan segala dimensi tradisi yang berkembang di Madura.

Begitu terlihat dalam salah satu cerpen yang berjudul “Blater”, di mana kemudian Mahwi memilih judul cerpen yang satu ini sebagai judul utama kumpulan cerpen dari sekian banyak cerita dalam buku ini. Tiada lain, Mahwi mengangkat tema Blater ingin menyampaikan informasi yang sebenarnya bahwa Blater itu bukanlah status sosial yang amoral atau status yang sejauh ini oleh kebanyakan orang terlebih orang-orang di luar Madura diklaim bahwa Blater itu tak ubahnya adalah bajingan, perampok, atau istilah lain yang menyatakan bahwa status itu adalah status yang tidak terhormat.

Padahal, Blater ini adalah kesatria lokal tanah Madura, yang secara kharismatik terkadang mengalahkan status Kiai di Madura. Akan tetapi Blater itu memang tampak dengan ketinggian ilmu kanuragan, dan secara watak memang condong agresif, pemarah, dan keras kepala. Sebagaimana Mahwi gambarkan dalam petikan ceritanya: “Hanya darah yang akan membuat bapakmu sadar, Sati!” Kata Madrusin, dalam petikan cerita dengan judul Blater (Hal. 34). Pada kutipan ini, siapa yang tidak akan berkesimpulan bahwa Blater atau bisa jadi masyarakat Madura secara umum begitu terlihat dengan watak pemarah dan keras kepala. Akan tetapi satu hal kemudian yang sejauh ini belum dipahami oleh orang-orang di luar Madura, bahkan masyarakat Madura sendiri sekalipun bahwa Blater atau masyrakat Madura secara umum itu bersikap demikian tentu dengan alasan dan pada kondisi tertentu. Sebagaimana Mahwi gambarkan dalam cerpennya: “Harga diri tak bisa dijual beli. Mesti dijunjung tinggi!” (Hal. 33). Nah, pada posisi inilah seharusnya, kita dituntut benar-benar memahami bagaimana watak orang Madura yang sebenarnya.

Pada sisi yang lain, Mahwi mencoba menggambarkan tradisi Madura melalui cerita pendeknya yang berjudul “Kasur Pasir”. Bagaimana konflik dalam cerita ini begitu menggambarkan esensi Madura yang sangat erat dengan kepercayaan dan keyakinan kepada suatu yang mistis (mitos). Dalam cerita Kasur Pasir ini, Mahwi menampilkan salah satu kebiasaan orang Madura, yakni meyakini kekuatan pasir. Dalam ceritanya, bahwa pasir di salah satu tempat di Madura diyakini memiliki kekuatan. Apabila seseorang tidur di atas kasur pasir tersebut, maka ia akan terhindar dari segala macam penyakit. Bahkan, tak jarang kasur pasir itu selalu menjadi dambaan bagi setiap pengantin baru. Sebagaimana kutipan berikut: “Malam pertama, pengantin baru harus tidur di atas kasur pasir, agar pertengkaran tak selalu terjadi dalam berumah tangga, sifat-sifat benci, cemburu, tertanggalkan menyatu dengan tanah” (Hal. 48).

Hingga hari ini, keyakinan orang-orang Madura kepada suatu yang mistis masih sangat mendarah daging. Hal demikian juga masih sangat terbukti dengan pelestarian ritual-ritual yang kerap dilakukan oleh masyrakat Madura, yang mana Mahwi menggambarkan dalam buku ini dengan salah satu judul ceritanya “Ojung”, di mana Ojung ini bagi pemahaman masyarakat Madura adalah sebentuk ritual yang diyakini sebagai ritual pengundang hujan.

Melalui buku ini, Mahwi sangat berhasil mengangkat tema lokal Madura. Dan melalui sekumpulan cerpennya ini, Mahwi begitu menunjukkan betapa besar kecintaannya terhadap tanah kelahirannya, yakni Madura. Sebagai masyarakat Madura, sudah seharusnya menyempatkan membaca buku ini, paling tidak dengan membaca buku ini, menajdi bukti bahwa kita masyarakat Madura juga turut peduli dan melestarikan akan tradisi-tradisi Madura. Selamat membaca!


Pernah dimuat di koran Radar Madura, 8 Oktober 2017.

Balas Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here