Kunjungan Imajiner ke Rusunawa Jemundo Sidoarjo

Barangkali karena lahir dan besar di Madura, saya memiliki ketertarikan dan concern tersendiri terhadap tragedi Syi’ah di Sampang. Tak sedikit pula rekan yang menanyakan perihal konflik Sunni-Syi’ah begitu mengetahui asal saya. Saya juga tak mungkin lupa ketika dengan terbatuk-batuk karena tak tahan dengan cuaca Canberra, awal 2016 lalu, saya menceritakan betapa rumit akar muasal kejadian tersebut di sebuah forum kecil dengan teman-teman dari DFAT Australia.

Sejauh ini saya memang hanya melakukan riset di balik meja dan belum pernah menyambangi langsung lokasi konflik ataupun GOR Sampang serta Rusunawa Sidoarjo. Karenanya, saya menyambut baik sekali kehadiran buku yang seakan mengingatkan pada khalayak bahwa di tengah kasus-kasus lain yang datang silih berganti, masih banyak problem kebangsaan yang belum usai dan tak boleh dilupakan begitu saja, apalagi dianggap selesai.

***

Saya memiliki ekspektasi cukup tinggi terhadap buku Di Balik Dinding Rusunawa (DBDR) karena semakin hari, semakin sedikit peneliti atau penulis yang melirik isu lama ini di tengah isu-isu lain yang barangkali lebih menarik dan ‘menjual’. Kalaupun ada, sependek pengetahuan saya, bentuknya terbatas pada artikel atau tulisan pendek. Penelitian-penelitian etnografis, apalagi yang serius, semakin jarang ditemui seiring bertambah usang—dan rumit—nya persoalan ini.

Karenanya, saya sangat menikmati lembar demi lembar ulasan dalam DBDR yang seakan membawa saya ke bangunan Rusunawa Puspa Agro Sidoarjo. Membaca beberapa kutipan langsung dari transkrip wawancara membuat saya seolah-olah tengah berkomunikasi dengan mereka menggunakan Bahasa Madura. Saya turut membayangkan bagaimana sulitnya berdamai dengan keadaan baru ketika trauma dari rentetan kejadian memilukan belumlah sembuh.

Ulasan-ulasan lain dalam DBDR juga cukup informatif menunjukkan bahwa pemerintah tak sepenuhnya abai dan begitu saja menempatkan komunitas ini di negeri antah berantah tanpa ‘bekal’ apapun. Meski ada beberapa catatan, keterangan perihal bantuan beras yang kemudian diganti bantuan tunai bulanan (hlm 18), akses terhadap fasilitas umum yang semakin terbuka (hlm 47) serta adanya pegawai BPBD Jawa Timur yang ditugaskan mendampingi komunitas ini sejak awal kedatangan (hlm 16)cukup memberi keberimbangan data untuk setidaknya meng-counter asumsi buruknya kinerja pemerintah.

Dibandingkan karya-karya atau hasil penelitian sejenis yang mengangkat kasus ini, DBDR terbilang ringan sehingga renyah dibaca. Penyajian data yang lebih mirip laporan penelitian berbentuk narasi esai tanpa analisis teori-teori yang serius dan ‘berat’ menjadikan buku ini ramah untuk semua kalangan.Selain itu, informasi singkat perihal kronologi peristiwa yang dialami komunitas Syi’ah Sampang hingga akhirnya berada di Rusunawa membuat buku ini layak dikonsumsi newbie yang baru akan mendalami kasus ini.

Menariknya lagi, prolog dan epilog dalam buku ini membentuk kombinasi yang apik. Prolog yang ditulis oleh Dr. Siti Aminah, Kaprodi Program Magister Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya,tempat ketiga penulis DBDR belajar, menyinggung beberapa teori yang relevan dengan konteks penelitian sehingga terlihat sangat academically minded. Sementara itu, kekuatan diksi khas Muhammad Al-Fayyadl, intelektual serta aktivis muda lulusan Universitas Paris, melengkapinya dengan analisis dari perspektif teologis serta kultural berikut dua tawaran praktis yang layak dipertimbangkan.

Hal yang sebenarnya lebih penting dari buku ini adalah perannya sebagai kanal yang menggaungkan suara hati komunitas Syi’ah Sampang agar bisa didengar lebih banyak telinga, tak terkecuali pihak berwenang serta saudara-saudara mereka, kaum Sunni. Di luar sumbangsihnya untuk dunia akademik dan ilmu pengetahuan, sisi lain buku ini adalah potensinya untuk menyemai benih-benih perdamaian yang sempat hilang dalam masyarakat Madura yang memiliki riwayat guyub serta karakter nganggep (bersaudara) yang kuat.

***

Terlepas dari berbagai kelebihan buku yang berawal dari tugas kuliah ini, ada sedikitnya dua hal dari DBDR yang patut menjadi bahan evaluasi. Pertama,paparan di dalamnya terkesan sangat simplistis, untuk tidak mengatakan minimalis. Untuk ukuran penelitian etnografis, utamanya jika berkaca pada data wawancara, kehadiran peneliti ke lokasi maupun interaksi dengan informan tampak kurang intens. Akibatnya, emosi yang sedari awal diaduk-aduk harus padam begitu saja karena space yang sedikit tersebut. Kedua, adanya beberapa peristiwa ‘kunci’ yang sebenarnya penting untuk dipaparkan lebih panjang lebar karena menampilkan sisi lain yang tak banyak diulas. Dua di antaranya adalah pengalaman pulang ke Sampang pada hari raya serta hubungan harmonis dengan warga (di sekitar) Rusunawa.

***

Sebagai karya akademik, DBDR layak mengawali kembali semaraknya kerja-kerja ilmiah untuk memotret komunitas Syi’ah Sampang dalam rangka memerjuangkan hasrat terbesar mereka untuk kembali ke kampung halaman. Sementara itu, dengan iktikadnya yang mulya, karya ini harusnya juga menjadi panggilan bagi pemerintah, lembaga swasta atau tokoh kultural untuk memberi aksi nyata demi menjamin terpenuhinya hak-hak kewarganegaraan komunitas Syi’ah Sampang yang hingga saat ini masih terampas.

Balas Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here