Peluncuran “Cengkal Burung” Di Kampus STITA Tarate Sumenep

0

Terpaan kemodernan dengan segenap julur tangannya, terutama kesejagatan dan kenasionalan bukan sekadar mencitrakan kekunoan-kekolotan, tapi juga benar-benar meminggirkan apa yang bernama budaya daerah termasuk bahasa dan sastra daerah. Tak ayal, sastra berbahasa daerah pada umumnya disingkiri oleh kebanyakan pemangku budaya daerah. Di samping itu, juga kurang beroleh pelindungan, peremajaan, dan pengembangan dari para pemangku budaya daerah. Padahal keberadaan dan kedudukan budaya daerah khususnya sastra berbahasa daerah begitu fundamental dan strategis bagi keberadaan dan kelangsungan komunitas atau masyarakat lokal.

Bukan saja menjadi jati diri, identitas, dan penanda kedaerahan atau lokalitas, tapi juga menjadi taman sari keanekaragaman sastra dengan bahasa daerah. Sebab itu, sastra dengan bahasa daerah sebagai bagian taman sari kebinekaan budaya Indonesia perlu dilestarikan, diremajakan dan dikembangkan oleh pelbagai pihak agar memiliki daya hidup di tengah nasionalitas dan globalitas kebudayaan. Daya hidup sastra dengan bahasa daerah dijamin oleh hak budaya sekaligus hak bahasa sebagai diatur dalam pelbagai kesepakatan dan peraturan perundang-undangan.

Salah satu cara melestarikan, meremajakan, dan mengembangkan sastra dengan bahasa daerah adalah dengan menulis, membukukan, dan menerbitkan himpunan puisi berbahasa daerah. Inilah makna penting buku ini.

Karena itu, terbitnya himpunan Cengkal Burung layak disambut gembira dan diapresiasi. Himpunan puisi karya Lukman Hakim Ag ini merupakan wujud usaha melestarikan dan meremajakan sastra Madura sekaligus menjaga kelangsungan hidup bahasa Madura di tengah nasionalitas dan globalitas.

Prof. Djoko Saryono, penyair dan guru besar di Universitas Negeri Malang.

Balas Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here