Peluncuran “Cengkal Burung” Di STKIP PGRI Sampang

0

Kata mereka:

Di dalam cerpen-cerpennya Mahwi benar-benar menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan Madura, ketegangan-ketegangan hubungan sosial, empati kekeluargaan, pemertahanan harga diri, sentimentalitas sporadis yang rawan dan genting, tradisi-tradisi yang coba dijaga baik serta kondisi dan situasi perubahan zaman yang kian menggerus lingkungan, tanah, dan kepribadian orang-orang Madura. Persinggungan dan pergeseran nilai juga terjadi dalam menyikapi perubahan globalisasi dapat kita lihat dalam cerpen “Kasur Pasir”. Sosok Nyi Marfuah dan pekerjaannya sebagai penjual pasir putih untuk alas tidur merupakan cerita bagaimana local genius mulai terkikis oleh “dunia sampah” yang mencemari pantai. Imbas demikian tidak dapat dielakkan. Dunia laut, nelayan, ikan-ikan cucut dan bandeng, pantai-pantai nan elok di Madura ditampilkan sebagai lanskap dalam cerpen-cerpennya. Fahrudin Nasrullah, Cerpenis.

Saya tak pernah ke Madura, tapi dengan membaca cerpen Mahwi Air Tawar, saya sudah merasakan asin dan manusia Madura, dan saya benar-benar merasa hidup di sana; menonton Karapan Sapi, melewati jembatan Suramadu, nonton Tandak, tidur di atas Kasur Pasir, dan aneka lainnya. Cerpen-cerpennya seperti menelanjangi sisi lain kemanusiaan kita: keras dan lembutnya hidup berkelindan di setiap narasi yang ia bangun. Yetti AKA, Cerpenis.

Anggitan (construction) identitas kultural Madura dalam narasi yang dibangun Mahwi melalui kumpulan cerpen ini menunjukkan proses negosiasi dari stereotip masyarakat Madura dan warna lokal Madura yang dinamis dan penuh konstelasi. Sebagai sastrawan, Mahwi piawai mengarungi dan menyelami tradisi geografis berbasis garam (pesisir), nuansa religius-tradisional, sekaligus sisi gelap keblateran. Yusri Fajar, Staf pengajar sastra FIB Universitas Brawijaya dan Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur.

Membaca cerpen Mahwi Air Tawar saya seperti berada di Madura. Kebudayaan Madura dikupas secara detail dan apik oleh penulis. “Eksotis Madura digarap dengan diksi yang gemulai sehingga pembaca digeret ke imajinasi tentang Madura yang indah dan sekaligus sadis. Cristopher Allen Wordrich, Pengamat Sastra.

Cerpen-cerpen Mahwi Air Tawar tak hanya menawarkan sebuah tema yang lain dan menarik dari keragaman tema karya sastra Indonesia belakangan. Tema-tema lokalitas Madura yang sengaja disuguhkan Mahwi dalam cerpen-cerpennya menjadi sangat penting untuk dikaji dan diketahui bersama. D. Kemalawati, Penyair.

Dalam cerpen-cerpennya, Mahwi Air Tawar, memaknai masa lalu sebagai sejarah dan ilmu. Atas dasar inilah, Mahwi dan cerpen-cerpennya berjuang untuk menyadarkan kita bahwa masa lalu sebenarnya fondasi epistemologi yang sangat kuat. Matroni Muserang (Kompas, 6 Juli 2014).

Balas Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here