Ikhlas Mengabdi dengan Kepribadian yang Kuat

Pengabdian merupakan unsur di tengah-tengah harapan demi kemajuan. Nilai pengabdian pada hakikatnya tidak bisa dihitung dengan materi. Hal itu hanya akan menjadi penghalang dalam kehidupan jika pengabdian dilandaskan pada penghasilan materi. Memang perlu kita akui, bahwa mengabdi tanpa mengharap materi sangat sulit dilakukan. Tetapi akan menjadi hal yang menyenangkan dan membahagian ketika sudah biasa dijalankan.

Keteladanan Muhammad Abu Bakar dalam pengabdian untuk umat kiranya perlu menjadi cerminan masyarakat kita di tengah krisis sosial dan segalanya dipandang dari aspek materi. Batu hantaman kehidupan memang sering menjadi pengganjal. Tetapi bagi Abu Bakar, batu-batu itu ditata rapi hingga menjadi fondasi bangunan peradaban yang kukuh dan kuat masyarakat Gorontalo, Sulawesi di kecamatan Bumbulan dan sekitarnya.

Sebagai pribadi yang lahir dari batu karang kehidupan Indonesia bagian Timur, Abu Bakar sudah terbiasa ditempat dengan semangat belajar, khususnya pelajaran agama (Islam). Demi ilmu pendidikan ilmu pengetahuan, dia rela menempuh jarak 8 kilo meter dengan berjalan kaki (hlm. 30). Bahkan, untuk menghadiri acara keagamaan ditempuh dengan 10 kilo meter.

Kadang kita melihat suatu keberhasilan dari satu sudut pandang saja: kebahagiaan atau kenyamanan. Sehingga, sudut-sudut lain seperti perjuangan banting tulang dan memeras keringat tertutupi sedemikian tertutup rapat. Hal itu yang membuat kita tak melakukan banyak hal untuk meraih keberhasilan. Ilusi dan bayang-bayang hidup serba berkecukupan sebatas menjadi impian. Di sini, kita bisa meneladani perjuangan sosok Abu Bakar dalam membina masyarakatnya agar keluar dari gelap kebodohan dan ketertinggalan dalam berbagai aspek kehidupan.

Dekat dengan Masyarakat
Sementara hal lain yang sering dikeluhkan oleh masyarakat kita, yaitu bahwa banyak pemimpin atau tokoh yang dipandang berpengaruh tidak banyak berbaur dengan masyarakat. Sehingga, masyarakat kadang memandang ketika ada seorang pemimpin berbaur dengan rakyat dianggap sebagai pencitraan belaka: ada udang di balik batu. Hal demikian terjadi, karena faktanya hanya pada saat tertentu seorang yang dianggap pemimpin berbaur dengan masyarakat.

Berbeda halnya dengan pribadi Abu Bakar. Dia merupakan pribadi yang memang dekat dengan masyarakat sejak sebelum memegang tampuk kepemimpinan di lingkungan pesantren Alkhairat Tilamuta. Tidak mudah bagi Abu Bakar untuk menjaga amanah (kepercayaan) yang diberikan padanya untuk memimpin (hlm. 87). Dia harus memeras otak dan mengerahkan segala upaya dalam mengembangkan visi dan misi yang digagas sesuai cita-cita pesantren Alkhairaat.

Berbeda dengan masyarakat dan pemimpin masa sekarang. Hak pribadi yang selalu dituntut, sementara tanggungjawab tidak begitu dihiraukan. Perjalanan hidup Abu Bakar ini tentu akan menjadi tamparan moral bagai para pemimpin dan masyarakat secara luas. Selain memang mengemban amanah dan merealisasikan tanggungjawab sebagai sosok pemimpin, kedekatan atau keakraban dengan masyarakat tampa seperti tidak ada sekat antara Abu Bakar dan lingkungan sosialnya.

Hingga dia berpandangan bahwa tamu baginya merupakan raja yang perlu dihormati. Bahkan, dia mengimbau masyarakat agar menjalin hubungan baik antar sesama manusia. Jika kita bertemu dengan orang yang baru dikenal, maka anjuran untuk menganggap sebagai teman yang lama tidak berjumpa. Dasar pemikiran ini kiranya menjadi acuan filosofis dalam menjalani kehidupan sosial dengan sebuah kesederhanaan (hlm. 115). Kehangatan dengan masyarakat merupakan kunci sebuah kebahagiaan, kerukunan, dan kedamaian.

Buku ini meski diangkat dari nuansa lokal Indonesia bagian timur, kita bisa menemukan inspirasi kehidupan manusia agar bercermin pada nilai-nilai kebaikan. Di sini, Abu Bakar yang tidak terlihat secara kasat mata bisa menjadi setitik cahaya kebajikan. Kepribadiannya dalam aspek akademisi, kepemimpinan, keagamaan, sosial, dan kultur pendidikan akan memberikan cakrawala keilmuan yang luas dan intelektualitas yang bisa dijadikan sebagai pegangan hidup bermasyarakat.

Balas Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here