Tragedi di Balik Dinding Rusunawa

Penyerangan, pemukulan, pengusiran kembali menjadi isu nasional di negeri ini. Sikap intoleran itu membuat korban sakit tidak hanya fisik, tetapi juga secara psikis. Terlebih dalam kasus pengusiran dari kampung halaman seperti yang dialami komunitas Syiah Sampang beberapa tahun silam.

Meski tahun berganti tahun—tahun 2011dan 2012 komunitas Syiah Sampang, mengalami pengusiran paksa; ada yang terluka berat dan ringan dan bahkan ada yang meninggal. Mereka diungsikan ke Rusunawa Jemundo, Sidoarjo Jawa Timur, mereka hingga kini masih “terpenjara” di balik dinding Rusunawa.

Di balik dinding Rusunawa, tempat dimana mereka diungsikan, harapan menggantung untuk kembali ke kampung halaman. Tetapi pemerintah dengan dalih keamanan membuat impian pulang ke kampung halaman menjadi pupus. Inilah negeri dimana menghirup udara di kampung kelahiran menjadi sangat mahal.

Buku Dibalik Dinding Rusunawa: Mengungkap Pengalaman Komunitas Syiah Sampang di Pengungsian mencoba memotret, melalui mini riset, silang-sengkarut kehidupan mereka di pengungsian. Pemerintah menganggap rumah pengungsian lebih baik daripada pulang ke kampung halaman. Padahal, secara psikis mereka merasa terpenjara di rumah pengungsian.

Komunitas Syiah Sampang kurang lebih selama lima tahun dapat hidup berdampingan, baik dengan sesama komunitasnya maupun dengan penduduk sekitar. Namun mereka tetap menginginkan untuk segera pulang ke Sampang. Harapan untuk pulang masih terus menyandra ingatan mereka sampai sekarang (hlm.22-23). Pengungsian, apapun fasilitas yang diberikan pemerintah, seperti rumah duka yang selalu dihantui rasa murung.

Komunitas Syiah diusir dan ungsikan karena dalam anggapan masyarakat mereka sesat. Sementara komunitas Syiah Sampang menolak untuk dikatakan sesat karena bagi mereka fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Sampang dan MUI Jawa Tmur hanya klaem sepihak, dan pemerintah terbukti gagal dalam menegakkan hukum dan menaati konstitusi (hlm. 40).

Itulah yang terus membuat mereka teralienasi dari lingkungan sosial dimana mereka dilahirkan Mereka seakan dianggap bukan bagian dari kita. Karena berbeda, mereka harus diusir untuk meninggalkan tanah kelahiran. Dengan tidak mengakui keberadaan dan menganggap mereka bukan bagian dari warga negara, sebenarnya itu adalah penjara bagi mereka.

Terlepas dari konflik ideologi keagamaan yang terjadi, pemerintah justru tidak hadir dalam menyelesaikan konflik ini. Pemerintah telah mempersulit atau bahkan merampas hak pendidikan komunitas Syah Sampang, akses mendapat kesehatan, hak untuk hidup tenang di kampung halaman dan bebas dari ancaman (47-48). Kemerdekaan menjadi papasan kosong bagi mereka.

Pemerintah terkesan lepas tangan untuk memenuhi hak-hak warga nagara untuk menjamin hak hidup dan menjaga keselamatannya. Pelan-pelan pemerintah justru kian menjauh. Rumah pengungsian yang mestinya hanya bersifat sementara, tetapi kini bertahun-tahun mereka hidup dalam pengungsian.

Buku kecil yang berbasis mini riset ini, setelah memoter duka dibalik dinding Rusunawa, beberapapenulis memberikan rekomendasi pada pemerintah. Pertama, kepada pemerintah, baik Pemkab Sampang, Pemprov Jatim, dan Pemerintah Indonesia hendaknya mengimplementasikan amanat konstitusi yang termaktub dalam Undang-Undang 1945 tentang perlindungan hak asasi manusi.

Kedua, pemerintah harus mengadakan rekonsiliasi kulturan dengan para ulama di madura antara Sunni dan syiah. Rekonsiliasi ini adalah membangun kesepakatan yang bisa diterima oleh kedua pihak sehingga komunitas Syiah mampu kembali ke Sampang, tanah keahiran mereka.

Buku ini menjadi potret kehidupan warga Syiah Sampang yang hidup di balik dinding Rusunawa dengan murung. Semoga pemerintah lekas mengambil tindakan untuk segera memberikan mereka tempat tedu yang aman dan nyaman. Tempat itu bukun di rusun, tapi kembali ke kampung halaman.

Balas Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here