Bijak Memahami Islam Melalui Alquran Digital

0
23

Belakangan ini, kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengar dengan telinga kanan-kiri di media sosial tentang orang-orang yang mengaku beragama (Islam) ungkapan dan bahasanya sangat merisaukan. Sehingga benturan antar saudara seiman sudah menggerus kerukunan dalam berbangsa dan bernegara. Sebut saja belakangan ini kita disuguhi oleh isu pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Kasus itu mencuat dan dibesar-besarkan oleh kelompok tertentu dengan alasan-alasan yang kadang kontroversial jika dicermati dengan saksama.

Hal tersebut ditengarai oleh pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama (Islam) yang masih sebatas secara literal terhadap ayat-ayat Alquran tanpa mendalaminya dari berbagai sudut pandang: seperti histori atau sebab-sebab suatu ayat diturunkan atau diwahyukan. Isu-isu keagamaan yang mencuat di media sosial belakangan ini menjelang Pilpres 2019 seperti ada manuver politik meski secara tegas oleh sebagian kelompok dinyatakan tanpa politik. Bangsa ini sudah cerdas untuk memahami hal tersebut, tapi sayangnya masih mudah terpengaruh oleh label-label keagamaan tekstual yang menjamur di media sosial.

Menghadapi hal demikian, usaha Halim melalui buku Wajah Alquran di Era Digital ini berusaha untuk menengahi isu-isu keagamaan di media sosial seperti pendigitalisasian Alquran yang bebas digunakan oleh netizen (hlm. 4). Konflik di dunia maya akibat beda paham tak bisa dihindari, karena netizen dengan mudah akan mencarikan dalil-dalil dari Alquran atau Hadist di internet, lalu menafsirkannya sendiri. Itu pun secara harfiyah. Bahkan hal yang disayangkan, sebagai umat Islam sangat mudah menghujat dengan kata-kata yang tak mencerminkan kepribadiannya sebagai seorang muslim. Hal semacam ini yang menjadi tantangan umat beragama (Islam) di zaman modern yang disuguhi internet dengan media sosialnya.

Alquran Digital dan Media Sosial

Sebagaimana gagasan dalam buku ini, Halim menyebutkan konflik beda pendapat yang menyebabkan saling hujat sesama umat Islam, hal itu diakibatkan oleh mudahnya mengakses dalil-dalil dari internet. Siapa pun bisa melakukannya, lalu menafsirkan menurut pemahamannya sendiri. Padahal, untuk menafsirkan isi dari ayat Alquran ada kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang agar hasil tafsirannya memberikan nilai positif bagi kehidupan umat manusia.

Jika kehadiran ayat Alquran yang disampaikan menimbulkan pecah-belah atau kerisauan bagi masyarakat setelah disampaikan oleh seseorang, maka dapat dipastikan penyampai ayat tersebut bukanlah orang yang benar-benar baik dan tak menginginkan kebenaran yang hakiki. Itu bisa dilakukan semata agar dianggap mumpuni dalam hal agama, padahal cara-cara yang dilakukan bertolak-belakang dengan ajaran agama (Islam), yaitu untuk menebar kedamaian.

Di era digital saat ini, kita tak bisa mengelak atas kehadiran Alquran digital atau dalil-dalil yang mudah diakses melalui internet. Namun, hal yang perlu kita perhatikan yaitu jangan sampai menggunakan ayat-ayat Alquran untuk memecah-belah bangsa. Jadi sangat paradoks jika ayat Alquran sebagai sumber kebenaran namun realitanya menjadi pemicu konflik. Kesadaran masing-masing individu – khususnya umat Islam – harus diperkuat agar tak mudah menganggap orang lain salah.

Ada beberapa kelompok atau individu yang memandang pendapat orang lain yang berbeda dianggap keliru dan menganggap dirinya yang paling benar, seolah-olah paham betul dengan apa yang dikehendaki Tuhan dalam firman-Nya (hlm. 80). Sebagaimana dikatakan oleh Khalid Abou Fadl, mereka seperti berbicara atas nama Tuhan (speaking in the God’s name). Dengan demikian, otoritas keagamaan menjadi sangat kabur di media sosial. Hampir tak ada bedanya antara pakar dengan orang yang awam – dalam hal agama.

Kecemasan Halim melalui buku ini kiranya akan menjadi pemantik kesadaran keberagamaan kita di media sosial agar tak terjerumus pada hal-hal yang sifatnya destruktif. Digitalisasi Alquran dan dalil-dalil keagamaan lain yang bisa didapatkan di media online kini sudah digunakan bukan untuk mencari kedamaian, melainkan demi memenuhi nafsu belaka. Sehingga konflik-konflik psikologis terus menjamur dan liar memenuhi beranda media sosial.

Membaca buku ini akan memberikan sumbangsih kesadaran dalam beragama bagi masyarakat modern saat ini yang segalanya banyak disandarakan pada internet, khususnya dalil-dalil Alquran yang mudah diakses. Buku ini bisa dikatakan tak sempurna atau tampak dadakan penulisannya meski pesan-pesannya tetap mengena dan bisa dipahami dengan mudah: yaitu tentang kesadaran masyarakat dalam menghadapi dan memperlakukan Alquran digital agar memberikan pencerahan dan kedamaian bagi seluruh elemen masyarakat. Begitu!

Dimuat di Koran Duta Masyarakat, 12 Januari 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here