Madura, Pusaka dan Warisan

0
42

SASTRA tidak lahir dari kekosongan kebudayaan [A. Teeuw]. Tampaknya kata-kata itu yang pas disematkan untuk mewakili isi kumpulan cerpen ini.

Menarasikan lokalitas, spiritualitas dan mitologi serta isuisu perempuan Madura. Premis perempuan sebagai unsur sekunder dalam tatanan masyarakat, dipadukan dengan sejarah masyarakat Madura yang menempatkan tatanan nilai [value] sebagai undakan tertinggi kebudayaan. Budaya Madura memosisikan seorang perempuan lebih inferior dari pada laki-laki. Peran perempuan menjadi pasif dalam bermasyarakat, laki-lakilah yang memegang kendali, perempuan jadi unsur kedua. Madura budaya patriarki.

Kesan pertama jika mendengar nama Madura adalah keras dan tukang carok. Wilayah teritorial dan udara Madura yang panas menjadi suatu symbol pendukung yang tak terelakkan tentang kekerasan yang sudah melekat pada budaya Madura. Kekerasan timbul akibat adanya kecemburuan sosial. Setting cerita yang berlatar kehidupan manusia Madura yang kental sekali dengan mitologi dan spiritualitas.

Madura sendiri memiliki keanekaragaman budaya [sub kultur] di mana dibagi menjadi empat wilayah yang setiap wilayah menghadirkan warna lokalitasnya tersendiri. Dalam kumpulan cerpen Martabat Kematian yang tebalnya 152 halaman Muna Masyari menarasikan mitologi, perempuan desa yang jadi unsur sekunder dan dipadu padankan dengan hal yang sakral dalam budaya Madura yaitu perkawinan. Hal lain yang sangat kental sekali adalah spiritualitas yang menjadi pegangan setiap individu orang Madura.

Baca juga: Dari Pengembaraan ke Perjumpaan Puisi

Orang Madura kerap diartikan sebagai tukang tebas, suka bercanda dengan nyawa. Dalam cerpen Celurit Warisan menarasikan tentang celurit sebagai media keadilan, celurit Madura tidak asal tebas. Celurit itu tidak akan melukai orang yang tidak bersalah. Isu-isu tentang keramatnya celurit juga tergambar dalam cerpen Are’Lancor. Peran Are’ atau celurit mengganti peran seorang Bapak. Simbol celurit yang tergantung sungsang berperan sebagai penjaga atau keselamatan diri.

Pada sisi lain spiritualitas dan mitologi bersejajar; Mitos matinya dhemar kembang di sinyalir sebagai firasat kurang baik. Premis bunga melati bekas mempelai dalam perkawinan diyakini manjur agar cepat dapat jodoh bagi yang menaruhnya ditempat tidur. Menyematkan kembang bekas pengantin juga diyakini akan mendatangkan jodoh. Berbicara makna simbol perkawinan, penyangga perkawinan terdiri atas: jujur, setia, menerima.

Mitologi Bhuta dalam cerpen Bulan Berdarah yang hadir saat bulan Gherring atau gerhana bulan yang siap menyantap janin yang ada di dalam kandungan. Perempuan pembuat batik yang melakukan tapapuasa sebelum membatik. Isu tentang panjangnya usia kemarau dikarenakan ada perempuan bunting di luar nikah dalam cerpen Topeng Gulur. Janda tua yang mempersiakan kematiannya dalam Pesta Kematian. Budaya sedekah jariah digambarkan dalam cerpen Sortana sangat jelas sekali kekhasan orang Madura yang ramah tamah namun tidak mengurangi keabsahan tatanan nilai sebagai undakan teringgi yang tidak bisa di tawar.

Isu-isu perempuan Madura yang inferior dan dirinya di jadikan unsur sekunder. Perempuan yang harus menunggu nasib dari seorang laki-laki. Tokoh Sum yang bertunangan dengan Dulamin, namun Dulamin pergi merantau dan sekian lama tidak ada kabar sedikitpun darinya, singkat cerita, Sum mencari sosok pengganti Dulamin yaitu Harun. [Matinya Damar Kambang]. Suami yang menalak istrinya karena termakan fitnah dari orang lain bahwa istrinya telah berbuat serong dengan lelaki lain di sungai, dan imbasnya anak yang dikandung si istri tidak di akui oleh suami yang sah. Perempuan digambarkan tidak punya kuasa untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi karena keapriorian si suami [Rokat Salera]. Budaya Madura yang menganut sistem patriarki mengharuskan perempuan tunduk terhadap apapun yang dianggap benar oleh laki-laki.

Membaca Martabat Kematian kita dibawa ke dalam suasana spiritualitas Manusia Madura. Sosok Ibu digambarkan sebagai raga alam. Meskipun perempuan Madura menjadi unsur sekunder setelah kedominanan laki-laki. Sosok Ibu mengambil peranan penting dalam kehidupan manusia Madura. Jelas tergambar hampir seluruh cerpen Martabat Kematian tokoh utamanya adalah seorang perempuan. Isu-isu tentang warisan pusaka: tanah warisan, budaya warisan perempuanlah yang menjadi sosok penjaga dan perasa di dalamnya. Pintalan-pintalan gagasan akan tetap mewarnai budaya Madura: kekerasan, mitologi, spiritualitas, serta isu-isu perempuan Madura yang sampai kapanpun akan selalu segar untuk ditulis dan dipelajari.

Pernah dimuat di Kabar Madura, Jumat 29 Maret 2019

SHARE
Artikel sebelumnyaMelihat Problematika Alquran di Era Digital
Mahasiswa Universitas Madura Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here