Sekitar tahun 70-an, kesusastraan kita pernah meriah dengan karya yang menggambarkan “warna lokal”, yakni cerita-cerita yang mencoba menggali latar sosial budaya dengan segala kekhasannya. Itu adalah upaya, sekaligus kesadaran, agar sastra Indonesia tidak terlalu “kebarat-baratan”. Keanekaragaman budaya (sub kultur) yang kita miliki memang tidak hanya menarik sebagai wacana politik, tetapi juga menantang untuk dieksplorasi secara artistik. Beruntunglah para penulis yang hidup dalam lingkungan budaya yang kuat, dan menjadikan budaya itu sebagai sumber inspirasinya, seperti Muna Masyari ini.

Cerita-ceritanya, memperlihatkan upaya penulisuntuk menghadirkan kembaliwarna lokal, dalam hal ini latar budaya Madura, sekaligus memberinya konteks kekinian. Kita jadi memahami bagaimana manusia berubah dan mesti menanggung bermacam resikodari perubahan. Mungkin gamang, dan seringkali getir.

Agus Noor, penulis.

“Cerita-cerita Muna adalah perpaduan antara penjelajahan estetika, dokumentasi antropologi, dan cara pengarang memandang lingkungan budaya yang melahirkannya. Buku ini harus hadir dalam narasi utama kesusastraan kita untuk memberi gambaran utuh wajah Indonesia.”

– Okky Madasari, novelis.

Penulis: Muna Masyari

Cetakan: I, 2019

Tebal: xii+156 hlm

Harga: Rp56.000

TULIS KOMENTAR