Menolak Asas Tunggal Pancasila Tidak Menolak Pancasila

0
287

71 tahun adalah umur yang tidak lagi muda bagi sebuah organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam atau yang sering disingkat HMI. Sejak kelahirannya pada 5 Februari 1947, telah banyak pergulatan pemikiran keorganisasian-keislaman-keindonesiaan yang mempengaruhi perjalanan organisasi maupun kehidupan bangsa Indonesia. Sejarah panjang tersebut sebagian telah tercatat dalam buku sejarah HMI yang telah ada, namun sejatinya masih banyak potongan-potongan peristiwa yang belum tertulis menjadi catatan sejarah utuh.

Tokoh-tokoh intelektual yang lahir dari rahim HMI seperti Deliar Noer, Dahlan Ranuwiharja, Nur Cholis Majid, Abdullah Hehamahua, dan lain-lain memberikan perpaduan warna tersendiri dalam tubuh HMI. Tidak jarang perjumpaan pemikiran antara para intelektual itu membuat tegang internal HMI. Salah satu contoh paling nyata adalah perpecahan HMI menjadi dua yaitu HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) dan HMI Diponegoro.

Sebab utama perpecahan ini adalah berbedanya pendapat dan sikap anggota HMI dalam menjawab perintah pemerintahan presiden Soeharto yang mewajibkan seluruh organisasi masyarakat menggunakan Pancasila sebagai satu-satunya asas melalui Undang-Undang Nomor 3 tahun 1985 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1974 Tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Ada anggota yang menolaknya dan ada anggota yang menyetujui.

Perbedaan pendapat tersebut memuncak dengan lahirnya Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) yang membuat kongres sendiri di Yogyakarta tahun 1986.  MPO tetap mempertahanakan HMI berasaskan Islam, sementara Dipo merubah asas menjadi Pancasila. Gerakan reformasi 1998 yang telah berhasil menggulingkan rezim Orde Baru membuat HMI Dipo mengembalikan asas menjadi Islam. Meski sudah berasas sama tetapi konsolidasi MPO dan Dipo tidak terjadi hingga saat ini kedua HMI tetap berjalan masing-masing.

Anak haram Orde Baru ini (MPO) tetap eksis dan justru mengalami penguatan hingga sekarang. Mempertahankan asas Islam bagi keluarga besar MPO ketika itu adalah pilihan yang sudah tepat. Tentu pillihan itu mengandung banyak resiko. Beberapa diantaranya adalah pelarangan negara terhadap segala aktivitas kegiatan MPO. Anggota-anggotanya bahkan ada direpresi oleh aparat negara. Selain itu, oleh banyak alumni atau senior HMI, anggota MPO ditelantarkan dengan kemungkinan “mati” secara perlahan. Namun Allah menunjukan kebesaran-Nya. Dari rahim MPO justru lahir Anies Baswedan, Bambang Soesatyo, Erwin Moeslimin, dan tokoh-tokoh muda lain yang berpotensi memimpin Indonesia masa depan.

MPO sampai saat ini terkadang masih mendapat fitnah sebagai ekstrimis yang menolak Pancasila. Lucunya bahkan MPO terkadang disangkut-pautkan dengan gerakan komunis sekaligus gerakan pendirian Negara Islam Indonesia dalam waktu ­bersamaan. Faktanya, generasi sekarang tidak pernah bertemu dengan penggagas MPO yang setelah terjungkalnya Orde Baru melakukan gerakan politik untuk mengganti Pancasila. Generasi sekarang juga tidak menemukan jejak proses doktrinasi atau ajaran penggantian Pancasila sebagai dasar negara diinternal MPO.

Mereka yang mendirikan MPO memiliki karakter yang berbeda-beda. Tetapi percayalah ada satu karakter yang sama dimilikinya, yaitu mereka semua orang-orang yang pemberani dan teguh memegang prinsip.

Buku ini secara obyektif menilai pertimbangan pilihan sikap anggota HMI yang menolak penerapan asas tunggal Pancasila. Dengan metodologi yang tidak diragukan lagi karena telah diverifikasi secara ilmiah oleh Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Maka bangunan argumentasi yang ada dalam buku ini merupakan argumentasi ilmiah dan bukan argumen politik yang cenderung bersifat pembelaan subjektif semata.

Pengurus Basar (PB) HMI sangat bersyukur atas terbitnya buku ini. Dahulu HMI memiliki tokoh sekelas Agus Salim Sitompul yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk mempelajari sejarah HMI. Semoga saudara Rusdi yang saat ini aktif sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado dan sekaligus masih aktif sebagai anggota komisi Pengembangan Aparat Organisasi PB HMI periode 2018-2020 mampu melanjutkan spirit alm. Agus Salim Sitompul dengan menjadi sejarawan HMI masa depan.

Selamat atas diterbitkannya buku berjudul MPO: Anak Haram Orde Baru, Pewaris Sah HMI, ini. PB HMI berterima kasih kepada penulis karena sudah berani dengan jujur menulis bagian dari sejarah perjalanan panjang HMI. Semoga akan lahir karya-karya berikutnya tentang sejarah HMI yang ditulis oleh saudara Rusdi.

Jakarta, 29 November 2018 – 21 Rabiul Awwal 1440 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here