HAMPIR semua puisi yang terhimpun dalam buku ini adalah puisi-puisi yang saya tulis justru disaat saya sedang tidak ingin menuliskan apa-apa, apalagi menulis puisi! Saya tahu sangat sulit mewujudkannya, tapi keadaan tidak membuat saya berputus asa mencari cara berpaling dari puisi. Untuk mewujudkan keinginan itu saya lebih banyak menghabiskan waku dengan mendatangi kota-kota di Indonesia, bertandang ke pasar-pasar tradisional, dan bergaul dengan pedagang-pedagang dari Madura, Batak, dan Aceh.

Anehnya, setiap kali ngobrol, sesekali berkelekar justru entah kenapa puisi yang selama ini saya hindari tergambar dalam kehidupan mereka, dan bahkan saya banyak menemukan ungkapan-ungkapan peribahasa dalam moment tersebut.

Bersama mereka saya banyak ngobrol tanpa jelas pangkal-ujungnya, sesekali berkelekar dengan menggunakan ungkapan-ungkapan atau peribahasa daerah masing-masing. Bersama orang Batak dan Madura, misalnya. Bila saya tegur karena intonasi suaranya yang cenderung keras, mereka akan menjawab, keras-keras suara manusia, halus tapi suara setan. Demikian juga dengan gaya ungkap pedagang-pedagang Madura, yang tak kalah kerasnya; keras tape akerres.

Ada banyak ungkapan-ungkapan dari mereka yang sesekali membuat saya –sebagai sastrawan– terpukau dan jarang saya dengar ketika ngobrol dengan sastrawan. Ungkapan dan peribahasa, apalagi ketika mereka mengomentari soal harga barang yang selalu naik. “Kapan barang-barang ini akan turun harganya?” Tanya seorang pedagang. “Lha, bagaimana burung akan turun/hinggap toh pohon-pohonnya sudah pada ditebang.”

Dari pertemuan itu saya tidak hanya sekadar mendapatkan ungkapan/pribahasa yang jarang saya dengar ketika bersua sastrawan, tapi lebih dari itu diam-diam dari perjumpaan itu saya seperti diajak menyusuri konflik sosial, budaya, serta pernak-pernik kehidupan mereka ketika menetap di tanah kelahiran masing-masing.

Terang saja narasi di atas tak dimaksudkan: bahwa selama membaca sebagian karya sastra sering membuat kita mengernyitkan kening dan tak jarang berujung dengan segera menutup buku karena tak paham dengan apa yang dimaksud dalam tulisan-tulisannya. Sementara, dengan para pedagang tanpa sengaja kita menjumpai ungkapan-ungkapan segar sekalipun itu tak disengaja, tidak! Bagaimana pun, seorang penulis disamping dikenal pelestari bahasa dan budaya sastrawan adalah seorang perenung dan teramat selektif terhadap kata-kalimat yang akan dituliskan. Maka bisa dimaklumi bila sebagian dari karya-karya mereka kita juga mesti “pasang kuda-kuda” dengan konsentrasi penuh agar mengerti dan paham dengan apa yang dituliskan oleh sastrawan. Kalau tidak, maka berakhirlah pemahaman kita terhadap apa yang dimaksudkan. Mungkin atas alasan itulah, banyak pembaca awam, guru, bahkan sesama sastrawan tidak paham dengan kalimat yang cenderung jelimet.

Saya sendiri tidak pernah mengerti kenapa hal-hal sederhana ditulis dengan narasi-bahasa yang jelimet, kadang saya sendiri melakukannya. Apa mungkin hal ini disebabkan banyak penulis sastra kurang piknik oleh karena tugas mulia yang membuat mereka harus mengurung diri dalam kamar, merenung dan mencipta, sehingga hampir tak ada waktu; jangankan piknik, bahkan untuk tertawa saja tidak ada.

Dan entah kenapa saya selalu merasa bahagia, bahkan tidak jarang tepingkal-pingkal saat membaca karya-karya John Steinbeck, O. Henry, Ernest Hemengway, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Mustofa Bisri, dan Joko Pinorbo, dan sejumlah sastrawan lainnya. Apakah mereka kerap menghabiskan waktunya dan bahkan menanggapi setiap masalah dengan santai dan sederhana sebagaimana para pedagang sehingga sanggup melahirkan karya-karya jenaka?

Saya tidak tahu pasti apa yang dilakukan oleh mereka, tapi yang jelas saya merasa tertantang dan tak bisa berpaling seusai bersua dengan para pedagang-pedagang itu. Biasanya, seusai bersua dengan mereka keinginan kembali untuk menulis tak bisa saya hindari, sehingga tanpa saya sadari pula tiba-tiba saya sudah berkhusyuk-mesra dengan dunia puisi, sesuatu yang selama ini saya hindari setelah bertahun-tahun saya geluti, dan banyak sudah diterbitkan.

***

Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi ini tidak saya tulis di ruang kerja, saya tulis ketika berada di pasar dan biasanya, ketika keinginan menulis mendesak saya segera menepi. Bahkan puisi-puisi dalam Perjumpaan, yakni tentang sastrawan terkemuka: Ahmad Mustofa Bisri, D, Zawawi Imron, Djoko Saryono, NH. Dini, dan Saini KM., saya tulis ketika mengantar ibu belanja ke pasar Anyar, Tangerang. Demikian juga dengan puisi-puisi lainnya, saya tulis saat berada di Agen, Indogrosir dan di jalanan lainnya.

Seharusnya kumpulan puisi yang saya terbitkan adalah puisi-puisi yang bertema jual beli, tapi mengingat saya merasa puisi-puisi belum matang, akhirnya saya mengurungkannya. Maka, sekalipun puisi-puisi Jual Beli tidak bisa disertakan dalam antologi ini, puisi-puisi dalam buku ini tetap akan saya persembahkan kepada mereka, yang dengan setia dan dengan caranya mampu merawat warisan (peribahasa) leluhurnya. Tabik.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenunggu Keadilan untuk Warga Syiah Sampang
Lahir di Madura, 28 Oktober 1983. Sejumlah cerpen dan puisinya terbit di pelbagai surat kabar. Kumpulan cerpennya yang sudah terbit Mata Blater (2010), Karapan Laut (2014). Buku kumpulan puisinya Tanéyan (2015). Tanah Air Puisi, Air Tanah Puisi, (2017). Saat ini Mahwi tinggal di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

TULIS KOMENTAR