MEMBACA buku ini, sepatutnya kita merasa tertampar. Bagaimana kita, sebagai bangsa, bisa membiarkan orang-orang Syiah dari Sampang “terpenjara” di sebuah rusunawa dan dilabeli pengungsi?

Dan, itu terjadi “di depan mata.” Bukan di pelosok hutan atau dusun yang sulit dijangkau. Mereka diungsikan ke sebuah rusunawa yang cuma sepelemparan batu dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Tapi, selama empat tahun terakhir seolah luput dari percakapan kebangsaan kita.

Buku ini seolah menggedor kesadaran: kita selama ini begitu sibuk berkoar atau berdebat tentang toleransi atau penghormatan terhadap perbedaan. Tapi, nyaris tak melakukan apa-apa untuk mereka, ratusan warga Syiah yang tak punya keinginan lain selain pulang ke kampung halaman mereka.

Reportase dan deskripsi yang hidup seolah membawa kita ke tengah-tengah mereka yang diungsikan dengan paksa di Rusunawa Jemundo, Sidoarjo, itu. Bagaimana kita, misalnya, tak merasa tertohok saat membaca anak-anak warga Syiah itu bermain dalam lingkungan yang terkungkung. Dan, betapa mereka merindukan bermain di sawah. Atau mandi di sungai. Di kampung sendiri.

Wawancara detail, dengan narasumber beragam, ditambah riset pustaka, juga membuat kita paham bahwa pemicu terusirnya para warga Syiah itu kompleks. Tak semata faktor teologis.

Tapi, apapun faktornya, kalau setelah membaca buku ini kita tetap merasa baik-baik saja, barangkali ada yang salah dalam proses berbangsa kita…

Tatang Mahardika (Redaktur Buku Jawa Pos)

Data buku Di Balik Dinding Rusunawa

  • Penulis: Romel Masykuri, dkk
  • Tebal: 84 hlm., 13.5 x 20 cm
  • Cetakan I, 2017