TIDAK berlebihan kiranya apabila karya yang satu ini mendapatkan apresiasi lebih dari berbagai kalangan, khususnya oleh kita masyarakat Madura. Karena selain buku ini lahir dengan berbahasa daerah (Madura), barangkali ihwal ini juga merupakan satu-satunya jalan bagaimana Madura diselamatkan.

Lukman Hakim AG, walau semestinya ia bukan seorang yang lahir dan berdarah daging Madura, tapi rupanya dengan kecintaannnya dan kepeduliannya terhadap Madura, maka melalui segala tekad dan ikhtiarnya ia mampu mewakili kita sebagai penduduk pribumi, mempertahankan bahasa daerah, bahasa ibu ini dari segala intrik dan persoalan yang semakain lama semakin kentara saja, bahwa kita penduduk Madura secara perlahan sudah mulai meninggalkan dan melupakannya.

Bukanlah suatu upaya yang mudah, menerbitkan sekumpulan puisi dengan berbahasa daerah (apalagi Madura), karena konsekuensi yang kemudian harus diterimanya adalah pertaruhan yang sangat membutuhkan kesabaran. Secara indivudalis dan perhitungan finansial, buku berbahasa daerah ini begitu sempit ruang lingkup pemasarannya. Selain bahasa daerah sedikit peminatnya. Bahasa daerah ini condong dianggap suatu yang tidak begitu penting.

Tapi rupanya Lukman sangat dijauhkan dari oreintasi dan niatan semacam demikian. Sekali lagi patut kiranya kita berterima kasih dan mengapresiasi lahirnya buku puisi berbahsa Madura ini. Paling tidak kita belajar bagaimana meneguhkan kedirian kita dan ke-Madura-an kita sebagaimana Lukman tuturkan dalam pengantar buku ini: desa banyak memberikan pelajaran. Banyak hal yang tidak dimiliki kota. Tidak mungkin saya melupakan kedesaan saya. Atau dapat pula kita mengambil pelajaran dari sajak yang berjudul Potra-Potre Madura: “kaula potra-potre Madura/ kalaban anaong asma epon guste/ ta rida naleka badha nyongsangnga basa/ dhari rama, ebu, tor guru kodu nyongkem/ dha napoto, maske akalong masteka” (Hal. 19). Memaknai sajak ini, setidaknya ini adalah ungkapan terdalam Lukman dalam mengekspresikan dirinya sebagai bagian yang tinggal dan besar di tanah Madura. Maka dalam kondisi bagaimana pun Madura tak mungkin dilupakan.  

 Di samping itu pula dapat kita mengeksplorasinya melalui sajak yang berjudul Lalano (kepompong). Lewat sajak ini Lukman menggambarkan bahwa manusia ini seperti kepompong, semasih di kampung halamannya ia begitu bersih dan belum terseret ataupun terkontaminasi oleh segala sesuatu yang berpengaruh di sekitarnya, akan tetapi apabila sudah bersentuhan dengan yang di luarnya layaknya kupu-kupu yang sudah mampu terbang dan lupa asal-usulnya. “Lalano/ dhimma bara dhimma temor/ dudduwagi kemma lanceng  kemma paraban/ mangkat nyaba atina nyaman/ lenggu-lenggu ola nembhang esendhemme mano/ emmak embuk ban ale badha dhimma/ abit se elang aba caltong/” (Hal. 38). Secara tersirat Lukman melalui sajak ini menampakkan kekhawatiran yang begitu mendalam, sebagaimana kita jamak menjumpainya, masyarakat Madura lebih tertarik melestarikan kebudayaan dan kekayaan sumber daya alam di luar Madura, daripada citra, karsa dan kekayaan alam Madura itu sendiri pada prinsipnya.

Lebih dari itu, Lukman sangatlah lihai meramu setangkup sanja (sajak) dalam buku Cengkal Burung ini. Puisi-puisi yang dihaturkan begitu menyentuh ruas terdalam tubuh Madura. Cukuplah berhasil ia sajikan segala elemin dan emosional sosial-budaya Madura, tanpa terkecuali karakter serta potret kehidupan orang Madura. Salah satu di antaranya bagaimana kemudian Lukman menggambarkan kehidupan nelayan, di mana nelayan merupakan salah satu entitas upaya mata pencaharian masyarakat Madura dalam berpenghasilan: “aeng amosse/ angen asapo kencop akese/ ondhem le selle/ se majang gi buru nyambung ora/ bile mangkat, ollena ta sabandhing barengnga rassa” (Hal. 3). Sajak ini begitu mencerminkan bagaimana peliknya menggayung penghasilan di bumi Madura, akan tetapi persoalan ini lahir apakah merupakan akibat miskinnya sumber daya alam (SDA) kita, atau lebih tepatnya karena masih sangat rendahnya sumber daya manusia (SDM) kita masyarakat Madura. Lukman mencoba menjawabnya persoalan ini dengan salah satu sajaknya yang berjudul Noor Bintang: “epetthega gan settong/ dhari masteka kopean karteka/ ban sabarundhut bintang naggala se nyongay/ eajuma akadi aduur malate satoor/ ekimpoa dhari biruna tase dhaun langnge/ dhari buliran-buliran tasbi/ saksena lemang bakto/ ban-sabban peddera are ban bulan ka bume” (Hal. 39).

Melalui buku ini, Lukman Hakim AG. rupanya ingin membuktikan bahwa Madura itu tidak hengkang melawan perkembangan zaman. Maka patutlah kita gembira dan mengapresasinya, serta sebagai masyarakat Madura wajib hukumnya kita membacanya.

TULIS KOMENTAR