Hoaks, Individualis hingga Krisis Kesantunan G-Z

0
89

KEMENTERIAN Kominfo selama April 2019 menemukan 486 hoaks di mana 209 di antaranya kategori politik, seperti menyerang capres-cawapres, partai politik, KPU, dan Bawaslu. Salah satu contoh hoaks adalah ceramah Rahmat Baequni yang menyebut ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal karena diracun.

Menurut Yulfan Alif Nurohman (hlm. 188), selama ini sumber berita palsu dipersepsikan berasal dari pengguna media sosial (medsos). Perlu pencegahan akan menyeruaknya berita palsu tersebut. Dalam buku ini juga membahas perkembangan teknologi generasi Z (G-Z). Menurut Oblinger (hlm.2), G- Z me­rupakan lahir tahun 1995–sekarang.

Hidup di tengah-tengah teknologi canggih memudahkan G-Z menjadikan kemauan diri dalam sekejap mata. Mereka hanya membutuhkan paket internet. Semua yang diharapkan dengan mudahnya menjadi kenyataan. Jadi sudah bisa diketahui bahwa G-Z akrab dengan teknologi sejak lahir. Segala bentuk kegiatan mereka dikontrol gawai atau gadget.

Promo: Order sekarang, free ongkir !

Di balik kemudahan dalam mengakses informasi, G-Z juga diserang berita hoaks dan krisis kesantunan. Hal itu membuat mereka sangat mudah terjerumus dalam pergaulan yang salah. Mereka juga semakin malas melakukan kegiatan yang berurusan dengan orang banyak atau bersosialisasi. Mereka cenderung memilih bermain gadget dan medsos.

Perkembangan teknologi mempengaruhi segala aspek kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, bisnis, hingga budaya. Segala kebutuhan mudah didapat melalui gadget. Untuk berbelanja tidak perlu berdesak-desakan dan berpanas-panasan menuju toko. Semua tinggal klik di online store.

Instagram adalah medsos paling digemari G-Z untuk mengikuti tren-tren. Misalnya berpakaian dan gaya bicara mulai kearab-araban atau menggabungkan bahasa Arab dan Indonesia. Generasi ini acap kali menerima informasi hanya dari satu sumber. Keagamaannya masih sebatas perbincangan doktrin, tanpa dibekali ilmu yang jelas. Kalau sudah cocok dengan pendakwah tertentu, susah menerima pendakwah lain.

Dalam melakukan kegiatan, hendaknya mengedepankan sikap santun agar tidak menyinggung orang lain. Banyak kasus karena pengaruh negatif internet, tidak jarang pelajar pengguna medsos yang merasa kena cyber bullying trauma berat hingga lebih memilih bunuh diri. Pada zaman serbasangat instan ini, jangan mudah melabeli orang dari yang dikenakan.

G-Z sebaiknya selalu menyaring lebih dulu setiap informasi sebelum membagikan ke orang lain. Terkadang banyak ustaz yang kurang tepat dalam menafsirkan suatu ayat. Ketika G-Z merasa yang didakwahkan ustaz tadi sesuai dengan dirinya, cenderung membagikan ke story Instagram dan Whatsapp, tanpa menelusur lebih lanjut kebenaran ayat tersebut.

Buku Dari Halliday hingga Hanan Attaki, Generasi Milenial Membincang Generasi Z (Penerbit Sulur, 2019) membantu mereka dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini juga memberi pengetahuan tentang ilmu kebahasaan, kesantunan, pragmatik, komunikasi dan isu-isu mutakhir. G-Z harus selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu yang dapat memicu ujaran kebencian.

  • Pernah dimuat Koran Jakarta, 28 Juni 2019
SHARE
Artikel sebelumnyaMadura, Pusaka dan Warisan
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here